Analisis Sikap Kepahlawanan Tokoh dalam Sinema Animasi Indonesia “Battle of Surabaya”
Film The Battle of Surabaya merupakan film animasi 2D bergenre drama, action, dan sejarah Indonesia yang diproduksi oleh MSV Pictures dan dirilis pada tahun 2015. Film ini merupakan film animasi pertama yang berlatar perjuangan dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Kota Surabaya. Tokoh utama dari cerita pada isi film mengkisahkan tokoh fiktif, namun film ini juga memasukkan tokoh-tokoh nyata pahlawan Indonesia ke dalam ceritanya. Beberapa adegan film animasi Battle of Surabaya juga mengambil dari kisah nyata seperti pengeboman Hiroshima, detik-detik proklamasi, Bisa dibilang bahwa film ini merupakan film adaptasi dari kisah nyata perjuangan pemuda-pemudi pada pertempuran 10 November 1945. Namun, tokoh utamanya merupakan tokoh fiktif yang sengaja dibuat untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan.
Cerita pada film ini berfokus pada Tokoh Musa yang
menjadi tokoh utama dalam film. Musa adalah seorang anak yatim berumur 13 Tahun
yang tinggal di gubuk kecil berdua dengan ibunya yang sakit-sakitan.
Pekerjaannya menyemir sepatu dan menjadi kurir surat. Karena sering menyemir
sepatu para pejuang milisi Indonesia, Musa pun direkrut menjadi kurir pesan
rahasia yang tugasnya adalah mengirim surat rahasia dari barisan perlawanan Indonesia
kepada pejuang milisi Indonesia. Pesan yang dibawa oleh Musa merupakan surat
berisi susunan kode rahasia yang dikombinasikan dengan suara lagu keroncong
yang diputar di Radio Pemberontakan milik Bung Tomo. Berbagai peristiwa
menyedihkan dilalui oleh Musa dalam perjalanannya menjaga surat rahasia hingga
sampai tujuan. Bahkan ia kehilangan keluarga satu-satunya yaitu ibunya sendiri.
Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Yumna seorang gadis pemberani yang
memiliki tekad dan semangat juang yang tinggi. Keduanya melalui masa-masa yang
sulit selama terjadinya peperangan. Setelah kehilangan banyak hal yang
berharga, mereka memutuskan untuk ikut berjuang dalam pertempuran menjaga
kemerdekaan Indonesia dari rampasan tentara sekutu. Mereka bekerja bersama
untuk menyelesaikan misi penting dalam rangka mempertahankan kemerdekaan
Indonesia dari gangguan pasukan tentara sekutu.
Ketertarikan Indonesia terhadap produksi film animasi
telah meningkat seiring berjalannya tahun. Pada tahun 2004, pakar budaya
populer yang Bernama John Lent menulis tentang animasi milik Asia Tenggara yang
dianggap berstatus “sleeper” yaitu tertidur dibawah bayang-bayang animasi
Jepang dan Karya Korea, Tiongkok, Taiwan, dan India
Penulis ingin melakukan analisis lebih detail terhadap
film “Battle of Surabaya” karena film ini mempunyai sikap kepahlawanan
yang terlihat dari nilai-nilai perjuangan seperti kemauan berkorban, nilai
persatuan, nilai perjuangan, rasa hormat, pantang menyerah dan kerjasama yang
melambangkan rasa nasionalisme dan
patriotisme baik dari adegan maupun percakapan tokoh dan suasana yang tercipta dalam film ini. Unsur
kepahlawanan menurut Azis, Prasetyo, &
Ginting
Generasi muda Indonesia kini melihat nilai
kepahlawanan sebagai sebuah tindakan yang memberikan inspirasi dan memberikan
dampak positif bagi masyarakat. Kepahlawanan menurut generasi muda saat ini
merupakan aksi nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat. Nilai kepahlawanan
tidak lagi dipahami sebagai gerakan heroik dimana seorang pahlawan harus mengangkat
senjata melawan penjajah
Joyomartono
1.
Nilai
Perjuangan Rela Berkorban
Nilai rela berkorban merupakan perasaan tulus dan
ikhlas yang dimiliki seseorang dalam menghadapi tantangan, baik dari dalam diri
sendiri maupun dari luar (Arifin, dkk., 2020).
Nilai rela berkorban mencerminkan sikap seseorang yang mementingkan kepentingan
orang lain atau kepentingan bersama dibandingkan kepentingan diri sendiri.
Scene 1 – Musa Ditugaskan
mengirim pesan rahasia (31:54 – 31:59)
Adegan ini menceritakan suatu kondisi saat Musa diberi
tugas untuk mengantarkan pesan ke beberapa komando BKR dan markas milisi. Pesan
tersebut merupakan pesan penting yang isinya mengenai arahan koordinasi tugas
untuk persiapan menghadapi pendaratan tentara sekutu. Saat menerima tugas
tersebut, dialog jawaban musa seperti ini:
Musa: “Insyaallah, Tuan. Saya akan berusaha
sebaik-baiknya. Demi Indonesia, Tuan”
Dari dialog tersebut, terlihat bahwa Musa memahami
betapa pentingnya pesan yang dibawanya berkaitan dengan menjaga kemerdekaan
Indonesia. Membawa surat yang penting berarti akan menghadapi berbagai macam
bahaya pula. Ia akan menjadi incaran tentara sekutu yang ingin mengintervensi
kemerdekaan Indonesia. Meskipun tubuhnya kecil, namun ia memiliki jiwa
patriotisme dan nasionalime yang besar sehingga meskipun tahu ia akan
menghadapi bahaya, ia tetap rela berkorban asalkan untuk kepentingan tanah
airnya.
Scene 2 – Musa Tertangkap
Tentara Sekutu (1:01:32 – 1:01:41)
Adegan ini menceritakan suatu kondisi saat Musa
membawa pesan rahasia yang harus disampaikan kepada TKR bagian Selatan. Namun
ternyata Musa dibuntuti oleh tentara sekutu yang ingin merebut surat rahasia
tersebut dari Musa. Saat tahu bahwa ia dibuntuti, Musa segera menyembunyikan
tas berisi pesan rahasia di suatu tempat di dalam hutan. Ia berlari jauh ke
dalam hutan menghindari pasukan tentara sekutu, namun sialnya ia tertangkap.
Musa yang tertangkap dibawa ke markas tentara sekutu dan ditanya soal keberadaan
surat yang ia bawa. Tetapi Musa tidak mau menjawab dan tidak memberi tahu
apapun. Bahkan saat ia dipukuli oleh tentara sekutu dan ditanya secara terus
menerus, Musa hanya meneriakkan satu kata “MERDEKA!!”. Hal tersebut merupakan
suatu bentuk pengorbanan yang dilakukan Musa untuk melindungi kemerdekaan
negaranya yang mau dirampas oleh tentara sekutu. Meskipun dipukuli, ia tetap
tidak mau menjawab karena tidak ingin kemerdekaannya diintervensi oleh
penjajah.
Scene 3 – Yumna Menyusup ke
Markas Tentara Sekutu (1:07:46 - 1:09:12)
Adegan ini menceritakan suatu kondisi saat Musa
tertangkap oleh tentara sekutu. Yumna yang khawatir dan juga sedih dengan
keadaan sahabatnya memutuskan untuk menyusup masuk ke markas tentara sekutu
demi menolong sahabatnya. Yumna bersama beberapa anggota TKR memulai penyusupan
dengan membuat penjaga markas kehilangan kesadaran, kemudian mereka memasang bom di setiap pagar area
markas. Setelah bom diledakkan, barulah mereka masuk ke dalam markas dan
menyelamatkan Musa. Meskipun markas dipenuhi oleh tentara sekutu, Yumna dengan
berani melawan semua tentara sekutu yang ingin menggagalkan rencana
penyelamatan Musa. Sikap Yumna ini dikategorikan sebagai sikap rela berkorban
karena ia rela masuk ke markas musuh yang penuh bahaya demi menyelamatkan
sahabatnya yang ia sayangi.
Scene 4 – Yumna Tertembak
Peluru Tentara Sekutu (1:09:57 - 1:10:12)
Adegan ini menceritakan suatu kondisi saat Yumna,
Musa, dan Solehudin melarikan diri dari markas sekutu. Pada saat itu, mereka
terpojok karena tempat telah dikepung oleh tentara sekutu. Musa yang telah
terluka dengan gegabah bergerak maju membawa pistol, ingin memberikan
perlawanan kepada tentara sekutu. Tentara sekutu yang melihat tingkah Musa
semakin geram dan akhirnya melepaskan tembakan kea rah Musa. Yumna yang melihat
hal tersebut dengan sigap berlari ke arah Musa dan menggantikan Musa terkena
tembakan. Sayangnya tembakan tersebut terkena tepat di jantung Yumna sehingga
Yunma tewas di tempat. Sikap Yumna digolongkan sebagai sikap rela berkorban
karena ia menggantikan temannya yaitu Musa untuk terkena tembakan.
Scene 5 – Adegan Danu
Menabrakkan Dirinya Ke Tentara Sekutu (1:22:56 - 1:23:28)
Adegan ini menceritakan suatu kondisi dimana Danu dan
Musa terpojok saat kabur dari kejaran tentara sekutu. Danu memutuskan untuk
berkorban dengan menabrakkan sepeda motor yang dikendarainya kearah kendaraan
tentara sekutu sembari memberikan perlawanan berupa tembakan beruntun kepada
tentara sekutu. Danu juga memberikan pesan kepada Musa bahwa Indonesia harus
Merdeka. Sikap Danu ini digolongkan sebagai sikap rela berkorban karena ia
tewas demi melawan penjajahan. Ia juga menolong Musa dengan mengalihkan
perhatian tentara sekutu supaya Musa bisa kabur.
2.
Nilai
Perjuangan Persatuan
Nilai persatuan mengandung makna bahwa disatukannya
beraneka corak yang beragam dapat menjadi suatu kebulatan yang utuh (Arifin, dkk., 2020). Nilai persatuan
menjadikan semangat untuk bekerja sama dalam mewujudkan satu cita dan tujuan
yang sama.
Scene 1 – Musa Berdialog Dalam
Hati Memutuskan Menjadi Pejuang (46:31 – 47.01)
Adegan ini menceritakan suatu kondisi dimana rumah
tempat tinggal Musa dan Yumna terbakar hingga habis tak bersisa. Ibu Musa yang
sakit-sakitan tidak bisa lari dan terjebak di dalam. Sayangnya setelah Musa
mendengar kata-kata terakhir ibunya, rumahnya semakin hancur oleh api dan
ibunya tewas terkena puing-puing rumah yang terbakar. Begitu juga dengan Yumna
yang tinggal dengan nenek angkatnya. Neneknya merupakan satu-satunya keluarga
baginya, namun ia harus merelakan kepergian neneknya yang tewas terjebak di
dalam rumah yang terbakar pula. Musa dan Yumna sudah tidak memiliki hal
berharga lagi baginya, yang tersisa hanya diri mereka berdua masing-masing. Hal
tersebut membuat tekad Yumna bangkit untuk bergabung dengan pasukan pejuang
demi membela tanah air. Melihat semangat Yumna, Musa pun ikut tergerak untuk
bergabung dengan pasukan pejuang. Nilai perjuangan persatuan ini terlihat dari
adegan Musa berdialog sendiri di dalam hatinya:
Musa: “Hari itu dari radio, seperti yang
dijanjikan. Inggris memasuki kota Surabaya. Ribuan tentara Inggris merapat ke
dermaga Tanjung Perak. Persenjataan lengkap, panser, dan truk-truk pengangkut
pasukan. Seperti Yumna, aku akan bergabung dengan pejuang”
Dialog tersebut mendeskripsikan bahwa pasukan tentara
Inggris telah memasuki wilayah Indonesia, yaitu Tanjung Perak, kota Surabaya.
Melihat kondisi tersebut, Musa bertekad bergabung dengan pasukan pejuang untuk
melawan tentara Inggris yang ingin mengintervensi kemerdekaan Indonesia. Musa
ingin melindungi kemerdekaan milik tanah airnya dan melindunginya dari
penjajahan.
Scene 2 –Musa Melempar Batu
Untuk Melindungi TKR (51:27 – 51:34)
Adegan ini menceritakan suatu kondisi dimana Tentara
Keamanan Rakyat dan beberapa orang dari negara Inggris berseteru di jalanan.
Tiba-tiba tentara Inggris pun datang dan memberikan tembakan peringatan agar
TKR menyerahkan dirinya. TKR tentu saja menolak menyerahkan diri dan
melemparkan pisau kea rah tentara Inggris hingga satu orang tentara Inggris
tewas ditempat. Melihat perlawanan tersebut, tentara Inggris geram dan mulai
menembaki TKR yang berlarian untuk kabur. Pada saat berlarian, salah satu TKR
tersandung batu dan terjatuh. Tentara Inggris melihatnya sebagai kesempatan
untuk membidik dan menembak. Namun, Musa yang melihat hal tersebut tidak
tinggal diam dan melemparkan batu kearah tentara Inggris yang sedang membidik
tersebut. Batu yang dilempar terkena tepat di kepala sehingga mengganggu fokus
dari tentara Inggris yang sedang membidik. Saat tentara Inggris tersebut ingin
membidik lagi, TKR yang jatuh sudah pergi kabur dan hilang. Adegan ini
menunjukkan perjuangan persatuan dimana Musa menolong TKR tersebut karena
adanya rasa persatuan sebagai sesama masyarakat Indonesia.
Scene 3 –Yumna dan
Solehudin,dkk Menyusup ke Markas Musuh (1:02:55 – 1:04:10)
Adegan ini menceritakan suatu kondisi saat Musa
tertangkap oleh tentara sekutu. Yumna yang khawatir dan juga sedih dengan
keadaan sahabatnya mengabari Tentara Keamanan Rakyat dan memutuskan untuk
menyusup masuk ke markas tentara sekutu bersama demi menolong Musa. Yumna
bersama Solehudin dan pasukannya memulai penyusupan dengan membuat penjaga
markas kehilangan kesadaran, kemudian
mereka memasang bom di setiap pagar area markas. Setelah bom diledakkan,
barulah mereka masuk ke dalam markas dan menyelamatkan Musa. Meskipun markas
dipenuhi oleh tentara sekutu, Yumna, Solehudin dan pasukannya dengan berani
melawan semua tentara sekutu yang ingin menggagalkan rencana penyelamatan Musa.
Adegan ini digolongkan dalam nilai perjuangan persatuan karena Yumna dan
Solehudin, dkk yang menolong Musa memiliki rasa persatuan sebagai sesama
masyarakat Indonesia dan juga sesame pejuang kemerdekaan.
3.
Nilai
Perjuangan Harga-Menghargai
Nilai harga-menghargai merupakan sikap seseorang yang
menerima keadaan orang lain dengan baik, baik dalam perbedaan pendapat, agama,
dan sebagainya (Arifin, dkk., 2020).
Nilai ini merupakan nilai yang menjadi pedoman hidup dalam bermaysarakat dan
bernegara.
Scene 1 – Yumna Menceritakan Tentang
Dengan Danu dan Nenek Tirah (26:13 – 27:00)
Adegan ini menceritakan kondisi saat Yumna dan Musa
sedang berbagi cerita mengenai hidupnya. Yumna menceritakan bagaimana ia bisa
mengenal mas Danu dan kenyataan bahwa nenek Tirah bukanlah nenek kandungnya.
Dikisahkan bahwa Yumna pernah diselamatkan oleh Danu saat dirinya terjebak di
dalam rumah majikannya (orang Belanda) yang sedang terbakar. Yumna kemudian
dibawa oleh Danu ke sebuah desa dimana Yumna dan Musa tinggal saat itu. Oleh
Danu, Yumna dititipkan ke nenek yang tinggal sendirian di desa, yaitu nenek
Tirah. Yumna berkata meskipun nenek Tirah bukanlah nenek kandungnya dan tidak
ada hubungan biologis, namun Yumna sangat menyayanginya seperti keluarga
sendiri. Danu yang menitipkan Yumna kepada nenek Tirah juga sering datang dan
mengajari Yumna beberapa hal. Dari adegan diatas dapat terlihat nilai
harga-menghargai dari Yumna. Yumna yang telah ditolong oleh Danu dan nenek
Tirah menyayangi orang-orang tersebut meskipun bukan keluarga kandung. Rasa
sayang yumna juga merupakan bentuk menghormati, berterima kasih, dan juga
menghargai.
Scene 2 – Penyesalan Danu Soal
Tindakannya dan Respons Musa (1:14:38 – 1:14:55)
Adegan ini menceritakan kondisi saat Musa dan Danu
berhasil kabur dari markas sekutu. Musa masih merasa sedih atas kepergian Yumna
hingga merasa kesal terhadap perbuatan Danu sempat mengkhianatinya. Musa pun
menodongkan pistol ke kepala Danu, namun Danu menenangkan Musa dan berhasil
membujuknya untuk duduk tenang mengobrol. Berikut dialog yang menunjukkan
penyesalan Danu terhadap tindakannya:
Danu: “Aku salah jalan.
Seharusnya aku mendengarkan Yumna. tapi sekarang sudah terlambat”
Musa: “Belum, Mas. Terima kasih ya”
Dari dialog diatas terlihat sikap Musa yang masih
menghargai penyesalan Danu. Meskipun selama ini ia mempercayainya dan
dikhianati oleh keberpihakannya kepada penjajah. Akibat pengkhianatannya itu,
Yumna tertembak oleh pemimpin pasukan sekutu saat ingin melindungi Musa dari
tembakannya. Yumna pun tewas ditempat sehingga Musa merasa sedih dan kesal pada
Danu. Danu menyesali apa yang ia perbuat setelah kepergian Yumna yang
dianggapnya sebagai adik sendiri. Meskipun sempat merasa kesal, Musa masih
memaafkan dan menganggap penyesalannya belum terlambat, bahkan Musa mengucapkan
terima kasih kepada Danu.
4.
Nilai
Perjuangan Pantang Menyerah
Nilai pantang menyerah merupakan sikap terus berusaha
dalam menghadapi suatu permasalahan dalam kehidupan. Meskipun dalam
perjuangannya terdapat kegagalan, semangat pantang menyerah untuk mencapai
tujuan menjadikan kunci untuk terwujudnya keberhasilan dalam sebuah perjuangan.
Gagal merupakan hal yang biasa dan bukan akhir dari segalanya (Arifin, dkk., 2020).
Scene 1 – Yumna Berdialog
Menyemangati Musa Yang Bersedih (23:51 – 23:57)
Adegan ini menceritakan kondisi saat Musa kehilangan
surat penting yang harus ia antarkan kepada Pak Moestopo. Musa merasa sedih dan
malu karena ia gagal dalam misi pertama yang diberikan. Saat Musa bersedih,
Yumna menyemangati dengan dialog berikut:
Yumna: “Kita adalah anak-anak perang. Tidak akan
menyerah begitu saja dalam keadaan seburuk apapun.”
Dari dialog diatas terlihat sikap Yumna yang percaya
diri dan optimis. Meskipun banyak rintangan yang harus ia lalui, dalam keadaan
seburuk apapun ia tetap merasa harus semangat dan tidak boleh mudah menyerah.
Ia berusaha menyemangati temannya yaitu Musa agar pantang menyerah seperti
dirinya.
Scene 2 – Yumna dan Musa
Bertekad Bergabung Dengan Tentara Pejuang (42:41 – 42:50)
Adegan ini menceritakan kondisi saat Yumna dan Musa
sedang memakan sarapannya di warung sembari mendengarkan berita di Radio. Dari
berita di radio tersebut dikatakan bahwa setelah kepergian Jepang, Belanda
berencana kembali ke tanah air lagi untuk menjajah dan menguasai Indonesia.
Mendengar hal tersebut Musa menyadari bahwa perang akan terjadi lagi.
Yumna: “Tapi aku bertekad,
jika mereka berani mengusik kemerdekaan kita lagi aku akan bergabung dengan
para tentara untuk melawan penjajah”
Musa: “Aku Juga”
Dialog diatas memperlihatkan sikap Yumna dan Musa yang
pantang menyerah meskipun dirinya nanti harus menghadapi serangan dari tentara
sekutu lagi. Bahkan mereka bertekad bergabung dengan para tentara pejuang demi
melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan tanah air mereka.
Scene 3 – Musa Bertekad
Memberi Perlawanan Ke Sekutu (1:14:59 - 1:15:05)
Adegan ini menceritakan kondisi saat Musa dan Danu
berhasil kabur dari markas sekutu. Musa masih merasa sedih atas tewasnya Yumna
dan teman-teman sekutu lainnya yang tadinya berjuang berusaha menyelamatkan
Musa. Musa pun berdialog:
Musa: “Pengorbanan Yumna dan teman-teman tidak
boleh sia-sia”
Dari dialog diatas, terlihat bahwa Musa menunjukkan
sikap pantang menyerah. Meskipun ia kehilangan banyak orang yang berharga
baginya dan dalam keadaan terluka, ia tetap mau berjuang demi tanah airnya. Ia
menunjukkan tekad bahwa akan berjuang melawan penjajah demi Indonesia sampai
titik darah penghabisan.
5.
Nilai
Perjuangan Kerja Sama
Nilai kerja sama merupakan usaha yang dilakukan secara
bersama-sama atau saling membantu antara dua atau beberapa pihak (Arifin, dkk., 2020). Kekompakan menjadi kunci
yang memudahkan dalam kerja sama menyelesaikan suatu masalah. Nilai ini juga
menjadi dasar bagi kehidupan bermasyarakat di Indonesia sejak dahulu yang
terlihat dalam kehidupan sehari-hari seperti kebiasaan gotong royong, dan sebagainya.
Scene 1 – Musa Bertekad
Menyelesaikan Misi dengan Bantuan Danu (1:15:20 - 1:15:30)
Adegan ini menceritakan kondisi saat Musa dan Danu
berhasil kabur dari markas sekutu. Musa masih merasa sedih atas tewasnya Yumna
dan teman-teman sekutu lainnya yang tadinya berjuang berusaha menyelamatkan
Musa. Namun Musa bersikap pantang menyerah. Meskipun ia kehilangan banyak orang
yang berharga baginya dan dalam keadaan terluka, ia tetap ingin berjuang demi
tanah airnya. Ia memberi tekad bahwa akan berjuang melawan penjajah demi
Indonesia sampai titik darah penghabisan. Karena terluka ia tidak bisa
menyelesaikan misi sendirian, ia pun meminta bantuan kepada Danu.
Musa: “Mas Danu, bantu aku
menyelesaikan misi ini”
Danu: “Siap Komandan. Tapi
kamu bantu aku hidupkan motor ini”
Musa: “Siap”
Adegan ini menjelaskan bahwa saat menjalankan suatu
misi, diperlukan kerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. Meskipun orang
yang diajak bekerjasama pernah melakukan kesalahan, yang terpenting adalah
orang tersebut telah memahami kesalahannya, menyesali perbuatannya, dan
bertekad untuk berubah menjadi orang yang lebih baik. Musa meminta Danu
membantunya menyelesaikan tugas yang belum selesai dengan memaafkan kesalahan
yang sudah Danu lakukan. Permintaan bantuan dari Musa ini juga dikarenakan
dirinya yang terluka merasa kesulitan untuk berjuang menyelesaikan misi
sendirian. Musa beranggapan bahwa bekerja sama akan membuat penyelesaian misi
untuk mempertahankan tanah airnya menjadi jauh lebih mudah.
Dalam film Battle of Surabaya terdapat slogan
berupa dialog yang diucapkan oleh Ibu Musa yang berbunyi “tidak pernah ada kemenangan
dalam perang”. Slogan tersebut memiliki tujuan membujuk penonton untuk senang
hidup damai dan menjaga perdamaian. Sutradara film Battle of Surabaya,
Aryanto Yuniawan (dalam Arps, 2020)
mengungkapkan keinginannya untuk membuat film yang membujuk penontonnya untuk cinta
kedamaian. Agar sesuai dengan keinginannya, ia berencana membuat isi film
menjadi seimbang dengan menampilkan sifat baik dan buruk dari karakter dalam
film Battle of Surabaya. Contohnya saja, ia menggambarkan karakter
berkebangsaan Jepang yang baik, namun juga menggambarkan karakter berkebangsaan
Jepang yang bersifat buruk. Contoh yang sama terjadi pada karakter
berkebangsaan Indonesia yang Bernama Danu. Dimana ia digambarkan melakukan
pengkhianatan namun merasa menyesal setelah tewasnya Yumna yang dianggapnya
sebagai adik sendiri oleh pemimpin pasukan sekutu. Danu pun berubah berpihak
dengan Indonesia dan mempertahankan kemerdekaan tanah airnya.
Medkipun film Battle of Surabaya memiliki pesan
“tidak pernah ada kemenangan dalam perang” dan memuat ajakan menjaga kedamaian,
film ini juga berpesan bahwa perang merupakan suatu hal yang terjadi untuk
mencapai kemerdekaan maupun revolusi. Sutradara film Battle of Surabaya menampilkan
bagaimana karakter masyarakat Indonesia yang ramah, damai, dan berkemanusiaan.
Namun saat ada peperangan, masyarakat Indonesia juga siap untuk bertempur. Film
Battle of Surabaya menampilkan keberanian, ketegaran, dan perjuangan
masyarakat Indonesia di tengah situasi peperangan. Menggambarkan sifat rela
berkorban demi kemerdekaan meksipun nyawa dan orang-orang yang mereka sayangi
bisa terenggut. Sama persis seperti kejadian bersejarah dimana terdapat slogan
dari Bung Tomo pada saat pertempuran 10 November 1945, yaitu “Merdeka atau
Mati”.
Mengingat Film animasi ini berkisah tentang sejarah
perjuangan bangsa Indonesia, film ini menjadi sebuah film yang layak ditonton
untuk semua umur. Sebuah kisah sejarah yang dikemas dalam animasi yang enak
dipandang oleh mata menjadikan Film Battle of Surabaya layak ditonton sebagai
hiburan keluarga yang menghibur sekaligus mendidik untuk meningkatkan
nasionalisme secara tidak langsung. Kehadiran film ini menjadi sebuah pengingat
di tengah rasa nasionalisme dan patriotisme yang mulai mereda.
REFERENSI
Andika, D. W., Purwaka,
A., Cuesdeyeni, P., Nurachmana, A., & linarto, L. (2023). Analisis Nilai
Perjuangan Tokoh Utama Pada Film Battle Of Surabaya Disutradarai Oleh Aryanto
Yuniawan. Atmosfer: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, Budaya, dan
Sosial Humaniora, 1(1), 112-121.
doi:https://doi.org/10.59024/atmosfer.v1i1.136
Arifin, M. Z., Katrini, Y. E., &
H., T. P. (2020). Nilai-Nilai Perjuangan Tokoh Utama dalam Novel Dunia Samin
Karya Soesilo Toer: Tinjauan Sosiologi Sastra dan Implementasinya sebagai
Materi Ajar Pembelajaran Sastra di SMA. Repetisi: Riset Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia, 3(2), 26-38. Retrieved from
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
Arps, A. (2020). An Animated
Revolution: The Remembrance of the 1945 Battle of Surabaya in Indonesian
Animated Film. Southeast Asian Media Studies, 2(1), 101-117.
Azis, A., Prasetyo, A., &
Ginting, R. P. (2023). Makna Kepahlawanan dalam Tayangan ‘CNN Indonesia Heroes’
di CNN Indonesia Tv: Sebuah Analisis Resepsi. INNOVATIVE: Journal Of Social
Science Research, 3(4), 3884-3898.
Joyomartono, M. (1990). Jiwa,
Semangat, dan Nilai-Nilai Perjuangan Bangsa Indonesia. Semarang: IKIP
Semarang Press.
Lent, J. A. (2004). The ‘Sleeper’
Status of Southeast Asian Animation. Jurnal Komunikasi, 20, 183-199.
Retrieved from http://ejournal.ukm.my/mjc/article/view/22186
Ohoiwutun, P., & Sudrajat, H.
(2017). Sosio-Linguistik : memahami bahasa dalam konteks masyarakat dan
kebudayaan. Jakarta: Kesaint Blanc.
Paramaditha, I. (2017). Film Studies
in Indonesia: An Experiment of a New Generation. Bijdragen tot de taal-,
land-en volkenkunde/Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast
Asia, 173(2-3), 357–375. doi: 10.1163/22134379-17302006
Rahardi, R. K. (2017). Kajian
Sosiolinguistik: Ihwal Kode Dan Alih Kode. Bogor: Ghalia Indonesia.
Komentar
Posting Komentar