Analisis Sikap Kepahlawanan Tokoh dalam Sinema Animasi Indonesia “Battle of Surabaya”

 Film The Battle of Surabaya merupakan film animasi 2D bergenre drama, action, dan sejarah Indonesia yang diproduksi oleh MSV Pictures dan dirilis pada tahun 2015. Film ini merupakan film animasi pertama yang berlatar perjuangan dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Kota Surabaya. Tokoh utama dari cerita pada isi film mengkisahkan tokoh fiktif, namun film ini juga memasukkan tokoh-tokoh nyata pahlawan Indonesia ke dalam ceritanya. Beberapa adegan film animasi Battle of Surabaya juga mengambil dari kisah nyata seperti pengeboman Hiroshima, detik-detik proklamasi, Bisa dibilang bahwa film ini merupakan film adaptasi dari kisah nyata perjuangan pemuda-pemudi pada pertempuran 10 November 1945. Namun, tokoh utamanya merupakan tokoh fiktif yang sengaja dibuat untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan.

Cerita pada film ini berfokus pada Tokoh Musa yang menjadi tokoh utama dalam film. Musa adalah seorang anak yatim berumur 13 Tahun yang tinggal di gubuk kecil berdua dengan ibunya yang sakit-sakitan. Pekerjaannya menyemir sepatu dan menjadi kurir surat. Karena sering menyemir sepatu para pejuang milisi Indonesia, Musa pun direkrut menjadi kurir pesan rahasia yang tugasnya adalah mengirim surat rahasia dari barisan perlawanan Indonesia kepada pejuang milisi Indonesia. Pesan yang dibawa oleh Musa merupakan surat berisi susunan kode rahasia yang dikombinasikan dengan suara lagu keroncong yang diputar di Radio Pemberontakan milik Bung Tomo. Berbagai peristiwa menyedihkan dilalui oleh Musa dalam perjalanannya menjaga surat rahasia hingga sampai tujuan. Bahkan ia kehilangan keluarga satu-satunya yaitu ibunya sendiri. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Yumna seorang gadis pemberani yang memiliki tekad dan semangat juang yang tinggi. Keduanya melalui masa-masa yang sulit selama terjadinya peperangan. Setelah kehilangan banyak hal yang berharga, mereka memutuskan untuk ikut berjuang dalam pertempuran menjaga kemerdekaan Indonesia dari rampasan tentara sekutu. Mereka bekerja bersama untuk menyelesaikan misi penting dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari gangguan pasukan tentara sekutu.

Ketertarikan Indonesia terhadap produksi film animasi telah meningkat seiring berjalannya tahun. Pada tahun 2004, pakar budaya populer yang Bernama John Lent menulis tentang animasi milik Asia Tenggara yang dianggap berstatus “sleeper” yaitu tertidur dibawah bayang-bayang animasi Jepang dan Karya Korea, Tiongkok, Taiwan, dan India (Lent, 2004). Menurut Lent (2004) persaingan antara animasi Jepang dan kartun Amerika merupakan hal yang memperumit Indonesia untuk memasuki pasar dunia bahkan kesulitan untuk menguasai pasar lokal. Gagasan budaya khas Indonesia dalam sinema Indonesia menjadi rumit karena industri film Indonesia selalu terpapar pada kekuatan budaya dan modal transnasional (Paramaditha, 2017). Pada pembuatan sinema animasi, infrastruktur studio animasi di Indonesia yang masih dalam tahap pengembangan telah tertinggal jauh oleh negara-negara lain. Terbatasnya infrastruktur, kompetensi tenaga kerja, dan kepatuhan terhadap standar kualitas film animasi global menjadi sebuah penghambat yang cukup besar bagi industri animasi di Indonesia. Bahkan pencipta Battle of Surabaya harus pergi ke Kantana Sound Studio di Bangkok untuk menyelesaikan proses pasca produksi (Arps, 2020). Meskipun butuh usaha yang lebih, namun film ini berhasil mencapai popularitasnya dan mendapatkan banyak penghargaan. Popularitas film ini juga disebabkan kebaruan film animasi yang dibuat di Indonesia yang masih terbilang jarang. Meskipun film animasi Battle of Surabaya berhasil menemukan keunggulannya, film ini masih menjadi salah satu dari sedikit film animasi yang berhasil tayang di bioskop ketika berhasil dirilis. Battle of Surabaya juga menjadi satu-satunya film tentang revolusi yang dirilis besar-besaran di bioskop seluruh negeri.

Penulis ingin melakukan analisis lebih detail terhadap film “Battle of Surabaya” karena film ini mempunyai sikap kepahlawanan yang terlihat dari nilai-nilai perjuangan seperti kemauan berkorban, nilai persatuan, nilai perjuangan, rasa hormat, pantang menyerah dan kerjasama yang melambangkan  rasa nasionalisme dan patriotisme baik dari adegan maupun percakapan tokoh dan  suasana yang tercipta dalam film ini. Unsur kepahlawanan menurut Azis, Prasetyo, & Ginting (2023) adalah bagaimana seseorang bisa menjadi inspirator bagi ribuan orang, berani dan rela untuk berkorban demi masa depan, berjuang menyebarkan kebahagiaan dan menanamkan moral yang mulia, orang yang berdedikasi dalam pekerjaannya demi memberikan manfaat bagi orang lain.

Generasi muda Indonesia kini melihat nilai kepahlawanan sebagai sebuah tindakan yang memberikan inspirasi dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Kepahlawanan menurut generasi muda saat ini merupakan aksi nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat. Nilai kepahlawanan tidak lagi dipahami sebagai gerakan heroik dimana seorang pahlawan harus mengangkat senjata melawan penjajah (Rahardi, 2017). Pahlawan menjadi lebih dari sekedar seseorang yang telah minggal dunia di masa lalu. Pahlawan merupakan sosok di masa kini yang membawa Indonesia agar kedepannya sejajar dengan negara maju lainnya (Ohoiwutun & Sudrajat, 2017).

Joyomartono (1990) mengatakan bahwa nilai-nilai perjuangan meliputi nilai rela berkorban, nilai perjuangan persatuan, nilai perjuangan harga-menghargai, nilai sabar dan semangat pantang menyerah, dan nilai perjuangan kerja sama. Berikut merupakan analisis kepahlawanan tokoh dalam Film Battle of Surabaya yang dilihat melalui nilai-nilai perjuangan pada dialog maupun adegan:

1.     Nilai Perjuangan Rela Berkorban

Nilai rela berkorban merupakan perasaan tulus dan ikhlas yang dimiliki seseorang dalam menghadapi tantangan, baik dari dalam diri sendiri maupun dari luar (Arifin, dkk., 2020). Nilai rela berkorban mencerminkan sikap seseorang yang mementingkan kepentingan orang lain atau kepentingan bersama dibandingkan kepentingan diri sendiri.

Scene 1 – Musa Ditugaskan mengirim pesan rahasia (31:54 – 31:59)

Adegan ini menceritakan suatu kondisi saat Musa diberi tugas untuk mengantarkan pesan ke beberapa komando BKR dan markas milisi. Pesan tersebut merupakan pesan penting yang isinya mengenai arahan koordinasi tugas untuk persiapan menghadapi pendaratan tentara sekutu. Saat menerima tugas tersebut, dialog jawaban musa seperti ini:

Musa: “Insyaallah, Tuan. Saya akan berusaha sebaik-baiknya. Demi Indonesia, Tuan”

Dari dialog tersebut, terlihat bahwa Musa memahami betapa pentingnya pesan yang dibawanya berkaitan dengan menjaga kemerdekaan Indonesia. Membawa surat yang penting berarti akan menghadapi berbagai macam bahaya pula. Ia akan menjadi incaran tentara sekutu yang ingin mengintervensi kemerdekaan Indonesia. Meskipun tubuhnya kecil, namun ia memiliki jiwa patriotisme dan nasionalime yang besar sehingga meskipun tahu ia akan menghadapi bahaya, ia tetap rela berkorban asalkan untuk kepentingan tanah airnya.

Scene 2 – Musa Tertangkap Tentara Sekutu (1:01:32 – 1:01:41)

Adegan ini menceritakan suatu kondisi saat Musa membawa pesan rahasia yang harus disampaikan kepada TKR bagian Selatan. Namun ternyata Musa dibuntuti oleh tentara sekutu yang ingin merebut surat rahasia tersebut dari Musa. Saat tahu bahwa ia dibuntuti, Musa segera menyembunyikan tas berisi pesan rahasia di suatu tempat di dalam hutan. Ia berlari jauh ke dalam hutan menghindari pasukan tentara sekutu, namun sialnya ia tertangkap. Musa yang tertangkap dibawa ke markas tentara sekutu dan ditanya soal keberadaan surat yang ia bawa. Tetapi Musa tidak mau menjawab dan tidak memberi tahu apapun. Bahkan saat ia dipukuli oleh tentara sekutu dan ditanya secara terus menerus, Musa hanya meneriakkan satu kata “MERDEKA!!”. Hal tersebut merupakan suatu bentuk pengorbanan yang dilakukan Musa untuk melindungi kemerdekaan negaranya yang mau dirampas oleh tentara sekutu. Meskipun dipukuli, ia tetap tidak mau menjawab karena tidak ingin kemerdekaannya diintervensi oleh penjajah.

Scene 3 – Yumna Menyusup ke Markas Tentara Sekutu (1:07:46 - 1:09:12)

Adegan ini menceritakan suatu kondisi saat Musa tertangkap oleh tentara sekutu. Yumna yang khawatir dan juga sedih dengan keadaan sahabatnya memutuskan untuk menyusup masuk ke markas tentara sekutu demi menolong sahabatnya. Yumna bersama beberapa anggota TKR memulai penyusupan dengan membuat penjaga markas kehilangan kesadaran, kemudian  mereka memasang bom di setiap pagar area markas. Setelah bom diledakkan, barulah mereka masuk ke dalam markas dan menyelamatkan Musa. Meskipun markas dipenuhi oleh tentara sekutu, Yumna dengan berani melawan semua tentara sekutu yang ingin menggagalkan rencana penyelamatan Musa. Sikap Yumna ini dikategorikan sebagai sikap rela berkorban karena ia rela masuk ke markas musuh yang penuh bahaya demi menyelamatkan sahabatnya yang ia sayangi.

Scene 4 – Yumna Tertembak Peluru Tentara Sekutu (1:09:57 - 1:10:12)

Adegan ini menceritakan suatu kondisi saat Yumna, Musa, dan Solehudin melarikan diri dari markas sekutu. Pada saat itu, mereka terpojok karena tempat telah dikepung oleh tentara sekutu. Musa yang telah terluka dengan gegabah bergerak maju membawa pistol, ingin memberikan perlawanan kepada tentara sekutu. Tentara sekutu yang melihat tingkah Musa semakin geram dan akhirnya melepaskan tembakan kea rah Musa. Yumna yang melihat hal tersebut dengan sigap berlari ke arah Musa dan menggantikan Musa terkena tembakan. Sayangnya tembakan tersebut terkena tepat di jantung Yumna sehingga Yunma tewas di tempat. Sikap Yumna digolongkan sebagai sikap rela berkorban karena ia menggantikan temannya yaitu Musa untuk terkena tembakan.

Scene 5 – Adegan Danu Menabrakkan Dirinya Ke Tentara Sekutu (1:22:56 - 1:23:28)

Adegan ini menceritakan suatu kondisi dimana Danu dan Musa terpojok saat kabur dari kejaran tentara sekutu. Danu memutuskan untuk berkorban dengan menabrakkan sepeda motor yang dikendarainya kearah kendaraan tentara sekutu sembari memberikan perlawanan berupa tembakan beruntun kepada tentara sekutu. Danu juga memberikan pesan kepada Musa bahwa Indonesia harus Merdeka. Sikap Danu ini digolongkan sebagai sikap rela berkorban karena ia tewas demi melawan penjajahan. Ia juga menolong Musa dengan mengalihkan perhatian tentara sekutu supaya Musa bisa kabur.

2.     Nilai Perjuangan Persatuan

Nilai persatuan mengandung makna bahwa disatukannya beraneka corak yang beragam dapat menjadi suatu kebulatan yang utuh (Arifin, dkk., 2020). Nilai persatuan menjadikan semangat untuk bekerja sama dalam mewujudkan satu cita dan tujuan yang sama.

Scene 1 – Musa Berdialog Dalam Hati Memutuskan Menjadi Pejuang (46:31 – 47.01)

Adegan ini menceritakan suatu kondisi dimana rumah tempat tinggal Musa dan Yumna terbakar hingga habis tak bersisa. Ibu Musa yang sakit-sakitan tidak bisa lari dan terjebak di dalam. Sayangnya setelah Musa mendengar kata-kata terakhir ibunya, rumahnya semakin hancur oleh api dan ibunya tewas terkena puing-puing rumah yang terbakar. Begitu juga dengan Yumna yang tinggal dengan nenek angkatnya. Neneknya merupakan satu-satunya keluarga baginya, namun ia harus merelakan kepergian neneknya yang tewas terjebak di dalam rumah yang terbakar pula. Musa dan Yumna sudah tidak memiliki hal berharga lagi baginya, yang tersisa hanya diri mereka berdua masing-masing. Hal tersebut membuat tekad Yumna bangkit untuk bergabung dengan pasukan pejuang demi membela tanah air. Melihat semangat Yumna, Musa pun ikut tergerak untuk bergabung dengan pasukan pejuang. Nilai perjuangan persatuan ini terlihat dari adegan Musa berdialog sendiri di dalam hatinya:

Musa: “Hari itu dari radio, seperti yang dijanjikan. Inggris memasuki kota Surabaya. Ribuan tentara Inggris merapat ke dermaga Tanjung Perak. Persenjataan lengkap, panser, dan truk-truk pengangkut pasukan. Seperti Yumna, aku akan bergabung dengan pejuang”

Dialog tersebut mendeskripsikan bahwa pasukan tentara Inggris telah memasuki wilayah Indonesia, yaitu Tanjung Perak, kota Surabaya. Melihat kondisi tersebut, Musa bertekad bergabung dengan pasukan pejuang untuk melawan tentara Inggris yang ingin mengintervensi kemerdekaan Indonesia. Musa ingin melindungi kemerdekaan milik tanah airnya dan melindunginya dari penjajahan.

Scene 2 –Musa Melempar Batu Untuk Melindungi TKR (51:27 – 51:34)

Adegan ini menceritakan suatu kondisi dimana Tentara Keamanan Rakyat dan beberapa orang dari negara Inggris berseteru di jalanan. Tiba-tiba tentara Inggris pun datang dan memberikan tembakan peringatan agar TKR menyerahkan dirinya. TKR tentu saja menolak menyerahkan diri dan melemparkan pisau kea rah tentara Inggris hingga satu orang tentara Inggris tewas ditempat. Melihat perlawanan tersebut, tentara Inggris geram dan mulai menembaki TKR yang berlarian untuk kabur. Pada saat berlarian, salah satu TKR tersandung batu dan terjatuh. Tentara Inggris melihatnya sebagai kesempatan untuk membidik dan menembak. Namun, Musa yang melihat hal tersebut tidak tinggal diam dan melemparkan batu kearah tentara Inggris yang sedang membidik tersebut. Batu yang dilempar terkena tepat di kepala sehingga mengganggu fokus dari tentara Inggris yang sedang membidik. Saat tentara Inggris tersebut ingin membidik lagi, TKR yang jatuh sudah pergi kabur dan hilang. Adegan ini menunjukkan perjuangan persatuan dimana Musa menolong TKR tersebut karena adanya rasa persatuan sebagai sesama masyarakat Indonesia.

Scene 3 –Yumna dan Solehudin,dkk Menyusup ke Markas Musuh (1:02:55 – 1:04:10)

Adegan ini menceritakan suatu kondisi saat Musa tertangkap oleh tentara sekutu. Yumna yang khawatir dan juga sedih dengan keadaan sahabatnya mengabari Tentara Keamanan Rakyat dan memutuskan untuk menyusup masuk ke markas tentara sekutu bersama demi menolong Musa. Yumna bersama Solehudin dan pasukannya memulai penyusupan dengan membuat penjaga markas kehilangan kesadaran, kemudian  mereka memasang bom di setiap pagar area markas. Setelah bom diledakkan, barulah mereka masuk ke dalam markas dan menyelamatkan Musa. Meskipun markas dipenuhi oleh tentara sekutu, Yumna, Solehudin dan pasukannya dengan berani melawan semua tentara sekutu yang ingin menggagalkan rencana penyelamatan Musa. Adegan ini digolongkan dalam nilai perjuangan persatuan karena Yumna dan Solehudin, dkk yang menolong Musa memiliki rasa persatuan sebagai sesama masyarakat Indonesia dan juga sesame pejuang kemerdekaan.

3.     Nilai Perjuangan Harga-Menghargai

Nilai harga-menghargai merupakan sikap seseorang yang menerima keadaan orang lain dengan baik, baik dalam perbedaan pendapat, agama, dan sebagainya (Arifin, dkk., 2020). Nilai ini merupakan nilai yang menjadi pedoman hidup dalam bermaysarakat dan bernegara.

Scene 1 – Yumna Menceritakan Tentang Dengan Danu dan Nenek Tirah (26:13 – 27:00)

Adegan ini menceritakan kondisi saat Yumna dan Musa sedang berbagi cerita mengenai hidupnya. Yumna menceritakan bagaimana ia bisa mengenal mas Danu dan kenyataan bahwa nenek Tirah bukanlah nenek kandungnya. Dikisahkan bahwa Yumna pernah diselamatkan oleh Danu saat dirinya terjebak di dalam rumah majikannya (orang Belanda) yang sedang terbakar. Yumna kemudian dibawa oleh Danu ke sebuah desa dimana Yumna dan Musa tinggal saat itu. Oleh Danu, Yumna dititipkan ke nenek yang tinggal sendirian di desa, yaitu nenek Tirah. Yumna berkata meskipun nenek Tirah bukanlah nenek kandungnya dan tidak ada hubungan biologis, namun Yumna sangat menyayanginya seperti keluarga sendiri. Danu yang menitipkan Yumna kepada nenek Tirah juga sering datang dan mengajari Yumna beberapa hal. Dari adegan diatas dapat terlihat nilai harga-menghargai dari Yumna. Yumna yang telah ditolong oleh Danu dan nenek Tirah menyayangi orang-orang tersebut meskipun bukan keluarga kandung. Rasa sayang yumna juga merupakan bentuk menghormati, berterima kasih, dan juga menghargai.

Scene 2 – Penyesalan Danu Soal Tindakannya dan Respons Musa (1:14:38 – 1:14:55)

Adegan ini menceritakan kondisi saat Musa dan Danu berhasil kabur dari markas sekutu. Musa masih merasa sedih atas kepergian Yumna hingga merasa kesal terhadap perbuatan Danu sempat mengkhianatinya. Musa pun menodongkan pistol ke kepala Danu, namun Danu menenangkan Musa dan berhasil membujuknya untuk duduk tenang mengobrol. Berikut dialog yang menunjukkan penyesalan Danu terhadap tindakannya:

Danu: “Aku salah jalan. Seharusnya aku mendengarkan Yumna. tapi sekarang sudah terlambat”

Musa: “Belum, Mas. Terima kasih ya”

Dari dialog diatas terlihat sikap Musa yang masih menghargai penyesalan Danu. Meskipun selama ini ia mempercayainya dan dikhianati oleh keberpihakannya kepada penjajah. Akibat pengkhianatannya itu, Yumna tertembak oleh pemimpin pasukan sekutu saat ingin melindungi Musa dari tembakannya. Yumna pun tewas ditempat sehingga Musa merasa sedih dan kesal pada Danu. Danu menyesali apa yang ia perbuat setelah kepergian Yumna yang dianggapnya sebagai adik sendiri. Meskipun sempat merasa kesal, Musa masih memaafkan dan menganggap penyesalannya belum terlambat, bahkan Musa mengucapkan terima kasih kepada Danu.

4.     Nilai Perjuangan Pantang Menyerah

Nilai pantang menyerah merupakan sikap terus berusaha dalam menghadapi suatu permasalahan dalam kehidupan. Meskipun dalam perjuangannya terdapat kegagalan, semangat pantang menyerah untuk mencapai tujuan menjadikan kunci untuk terwujudnya keberhasilan dalam sebuah perjuangan. Gagal merupakan hal yang biasa dan bukan akhir dari segalanya (Arifin, dkk., 2020).

Scene 1 – Yumna Berdialog Menyemangati Musa Yang Bersedih (23:51 – 23:57)

Adegan ini menceritakan kondisi saat Musa kehilangan surat penting yang harus ia antarkan kepada Pak Moestopo. Musa merasa sedih dan malu karena ia gagal dalam misi pertama yang diberikan. Saat Musa bersedih, Yumna menyemangati dengan dialog berikut:

Yumna: “Kita adalah anak-anak perang. Tidak akan menyerah begitu saja dalam keadaan seburuk apapun.”

Dari dialog diatas terlihat sikap Yumna yang percaya diri dan optimis. Meskipun banyak rintangan yang harus ia lalui, dalam keadaan seburuk apapun ia tetap merasa harus semangat dan tidak boleh mudah menyerah. Ia berusaha menyemangati temannya yaitu Musa agar pantang menyerah seperti dirinya.

Scene 2 – Yumna dan Musa Bertekad Bergabung Dengan Tentara Pejuang (42:41 – 42:50)

Adegan ini menceritakan kondisi saat Yumna dan Musa sedang memakan sarapannya di warung sembari mendengarkan berita di Radio. Dari berita di radio tersebut dikatakan bahwa setelah kepergian Jepang, Belanda berencana kembali ke tanah air lagi untuk menjajah dan menguasai Indonesia. Mendengar hal tersebut Musa menyadari bahwa perang akan terjadi lagi.

Yumna: “Tapi aku bertekad, jika mereka berani mengusik kemerdekaan kita lagi aku akan bergabung dengan para tentara untuk melawan penjajah”

Musa: “Aku Juga”

Dialog diatas memperlihatkan sikap Yumna dan Musa yang pantang menyerah meskipun dirinya nanti harus menghadapi serangan dari tentara sekutu lagi. Bahkan mereka bertekad bergabung dengan para tentara pejuang demi melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan tanah air mereka.

Scene 3 – Musa Bertekad Memberi Perlawanan Ke Sekutu (1:14:59 - 1:15:05)

Adegan ini menceritakan kondisi saat Musa dan Danu berhasil kabur dari markas sekutu. Musa masih merasa sedih atas tewasnya Yumna dan teman-teman sekutu lainnya yang tadinya berjuang berusaha menyelamatkan Musa. Musa pun berdialog:

Musa: “Pengorbanan Yumna dan teman-teman tidak boleh sia-sia”

Dari dialog diatas, terlihat bahwa Musa menunjukkan sikap pantang menyerah. Meskipun ia kehilangan banyak orang yang berharga baginya dan dalam keadaan terluka, ia tetap mau berjuang demi tanah airnya. Ia menunjukkan tekad bahwa akan berjuang melawan penjajah demi Indonesia sampai titik darah penghabisan.

5.     Nilai Perjuangan Kerja Sama

Nilai kerja sama merupakan usaha yang dilakukan secara bersama-sama atau saling membantu antara dua atau beberapa pihak (Arifin, dkk., 2020). Kekompakan menjadi kunci yang memudahkan dalam kerja sama menyelesaikan suatu masalah. Nilai ini juga menjadi dasar bagi kehidupan bermasyarakat di Indonesia sejak dahulu yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari seperti kebiasaan gotong royong, dan sebagainya.

Scene 1 – Musa Bertekad Menyelesaikan Misi dengan Bantuan Danu (1:15:20 - 1:15:30)

Adegan ini menceritakan kondisi saat Musa dan Danu berhasil kabur dari markas sekutu. Musa masih merasa sedih atas tewasnya Yumna dan teman-teman sekutu lainnya yang tadinya berjuang berusaha menyelamatkan Musa. Namun Musa bersikap pantang menyerah. Meskipun ia kehilangan banyak orang yang berharga baginya dan dalam keadaan terluka, ia tetap ingin berjuang demi tanah airnya. Ia memberi tekad bahwa akan berjuang melawan penjajah demi Indonesia sampai titik darah penghabisan. Karena terluka ia tidak bisa menyelesaikan misi sendirian, ia pun meminta bantuan kepada Danu.

Musa: “Mas Danu, bantu aku menyelesaikan misi ini”

Danu: “Siap Komandan. Tapi kamu bantu aku hidupkan motor ini”

Musa: “Siap”

Adegan ini menjelaskan bahwa saat menjalankan suatu misi, diperlukan kerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. Meskipun orang yang diajak bekerjasama pernah melakukan kesalahan, yang terpenting adalah orang tersebut telah memahami kesalahannya, menyesali perbuatannya, dan bertekad untuk berubah menjadi orang yang lebih baik. Musa meminta Danu membantunya menyelesaikan tugas yang belum selesai dengan memaafkan kesalahan yang sudah Danu lakukan. Permintaan bantuan dari Musa ini juga dikarenakan dirinya yang terluka merasa kesulitan untuk berjuang menyelesaikan misi sendirian. Musa beranggapan bahwa bekerja sama akan membuat penyelesaian misi untuk mempertahankan tanah airnya menjadi jauh lebih mudah.

Dalam film Battle of Surabaya terdapat slogan berupa dialog yang diucapkan oleh Ibu Musa yang berbunyi “tidak pernah ada kemenangan dalam perang”. Slogan tersebut memiliki tujuan membujuk penonton untuk senang hidup damai dan menjaga perdamaian. Sutradara film Battle of Surabaya, Aryanto Yuniawan (dalam Arps, 2020) mengungkapkan keinginannya untuk membuat film yang membujuk penontonnya untuk cinta kedamaian. Agar sesuai dengan keinginannya, ia berencana membuat isi film menjadi seimbang dengan menampilkan sifat baik dan buruk dari karakter dalam film Battle of Surabaya. Contohnya saja, ia menggambarkan karakter berkebangsaan Jepang yang baik, namun juga menggambarkan karakter berkebangsaan Jepang yang bersifat buruk. Contoh yang sama terjadi pada karakter berkebangsaan Indonesia yang Bernama Danu. Dimana ia digambarkan melakukan pengkhianatan namun merasa menyesal setelah tewasnya Yumna yang dianggapnya sebagai adik sendiri oleh pemimpin pasukan sekutu. Danu pun berubah berpihak dengan Indonesia dan mempertahankan kemerdekaan tanah airnya.

Medkipun film Battle of Surabaya memiliki pesan “tidak pernah ada kemenangan dalam perang” dan memuat ajakan menjaga kedamaian, film ini juga berpesan bahwa perang merupakan suatu hal yang terjadi untuk mencapai kemerdekaan maupun revolusi. Sutradara film Battle of Surabaya menampilkan bagaimana karakter masyarakat Indonesia yang ramah, damai, dan berkemanusiaan. Namun saat ada peperangan, masyarakat Indonesia juga siap untuk bertempur. Film Battle of Surabaya menampilkan keberanian, ketegaran, dan perjuangan masyarakat Indonesia di tengah situasi peperangan. Menggambarkan sifat rela berkorban demi kemerdekaan meksipun nyawa dan orang-orang yang mereka sayangi bisa terenggut. Sama persis seperti kejadian bersejarah dimana terdapat slogan dari Bung Tomo pada saat pertempuran 10 November 1945, yaitu “Merdeka atau Mati”.

Mengingat Film animasi ini berkisah tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia, film ini menjadi sebuah film yang layak ditonton untuk semua umur. Sebuah kisah sejarah yang dikemas dalam animasi yang enak dipandang oleh mata menjadikan Film Battle of Surabaya layak ditonton sebagai hiburan keluarga yang menghibur sekaligus mendidik untuk meningkatkan nasionalisme secara tidak langsung. Kehadiran film ini menjadi sebuah pengingat di tengah rasa nasionalisme dan patriotisme yang mulai mereda.

 


 

REFERENSI

 

Andika, D. W., Purwaka, A., Cuesdeyeni, P., Nurachmana, A., & linarto, L. (2023). Analisis Nilai Perjuangan Tokoh Utama Pada Film Battle Of Surabaya Disutradarai Oleh Aryanto Yuniawan. Atmosfer: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, Budaya, dan Sosial Humaniora, 1(1), 112-121. doi:https://doi.org/10.59024/atmosfer.v1i1.136

Arifin, M. Z., Katrini, Y. E., & H., T. P. (2020). Nilai-Nilai Perjuangan Tokoh Utama dalam Novel Dunia Samin Karya Soesilo Toer: Tinjauan Sosiologi Sastra dan Implementasinya sebagai Materi Ajar Pembelajaran Sastra di SMA. Repetisi: Riset Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 3(2), 26-38. Retrieved from http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/

Arps, A. (2020). An Animated Revolution: The Remembrance of the 1945 Battle of Surabaya in Indonesian Animated Film. Southeast Asian Media Studies, 2(1), 101-117.

Azis, A., Prasetyo, A., & Ginting, R. P. (2023). Makna Kepahlawanan dalam Tayangan ‘CNN Indonesia Heroes’ di CNN Indonesia Tv: Sebuah Analisis Resepsi. INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, 3(4), 3884-3898.

Joyomartono, M. (1990). Jiwa, Semangat, dan Nilai-Nilai Perjuangan Bangsa Indonesia. Semarang: IKIP Semarang Press.

Lent, J. A. (2004). The ‘Sleeper’ Status of Southeast Asian Animation. Jurnal Komunikasi, 20, 183-199. Retrieved from http://ejournal.ukm.my/mjc/article/view/22186

Ohoiwutun, P., & Sudrajat, H. (2017). Sosio-Linguistik : memahami bahasa dalam konteks masyarakat dan kebudayaan. Jakarta: Kesaint Blanc.

Paramaditha, I. (2017). Film Studies in Indonesia: An Experiment of a New Generation. Bijdragen tot de taal-, land-en volkenkunde/Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, 173(2-3), 357–375. doi: 10.1163/22134379-17302006

Rahardi, R. K. (2017). Kajian Sosiolinguistik: Ihwal Kode Dan Alih Kode. Bogor: Ghalia Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Media Mainstream Lebih Valid Daripada Media Sosial